keep spirit :)
A.Defenisi
Iskemik atau penyakit iskemia jantung (IHD), atau iskemia miokard,
adalah penyakit yang ditandai dengan iskemia (suplai darah berkurang)
dari otot jantung , biasanya karena penyakit arteri koroner (
aterosklerosis dari arteri koroner ).
Penyakit jantung iskemik adalah keadaan berbagai etiologi, yang
menyebabkan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
miokard. Penyebab paling umum iskemia miokard adalah aterosklerosis.
Keberadaan aterosklerosis menyebabkan penyempitan pada lumen pembuluh
arteri koronaria epikardial sehingga suplai oksigen miokard berkurang.
Iskemia miokard juga dapat terjadi karena kebutuhan oksigen miokard
meningkat secara tidak normal seperti pada hipertrofi ventrikel atau
stenosis aorta. Jika kejadian iskemik bersifat sementara maka
berhubungan dengan angina pektoris, jika berkepanjangan maka dapat
menyebabkan nekrosis miokard dan pembentukan parut dengan atau tanpa
gambaran klinis infark miokard (Isselbacher, 2000).
Resiko IHD meningkat karena faktor usia, merokok, hiperkolesterolemia
(kolesterol tinggi), diabetes, dan hipertensi (tekanan darah tinggi),
dan lebih sering terjadi pada pria dan mereka yang memiliki kerabat
dekat dengan penyakit iskemia jantung.
B.Epidemologi
Ini adalah penyebab umum kematian paling banyak di kebanyakan negara
Barat, dan penyebab utama dari penerimaan rumah sakit. Ada bukti
terbatas untuk screening, tapi pencegahan (dengan diet sehat dan
kadang-kadang obat untuk diabetes, kolesterol dan tekanan darah tinggi)
digunakan baik untuk mencegah IHD dan untuk mengurangi risiko
komplikasi.
IHD adalah penyebab utama kematian bagi pria dan wanita di AS dan
negara-negara industri lainnya. Hal ini dapat mempengaruhi individu pada
usia berapapun tetapi paling sering pada orang tua. Pria yang terkena
lebih sering daripada perempuan namun tingkat menyamakan antara
laki-laki dan perempuan berikut menopause.(Wikipedia).
C. Etiologi
Penyakit jantung iskemik dapat hadir dengan salah satu masalah berikut:
Angina pektoris ( nyeri dada yang kuat, dalam cuaca dingin atau situasi emosional)
Nyeri dada akut: sindrom koroner akut , angina tidak stabil atau
infark miokard ("serangan jantung", sakit parah dada tak henti-hentinya
dengan istirahat yang terkait dengan bukti kerusakan jantung akut)
Gagal jantung (sesak napas atau pembengkakan pada kaki karena kelemahan dari otot jantung)
Riwayat kesehatan membedakan antara penyebab lain untuk sakit dada
(seperti dispepsia , nyeri muskuloskeletal, emboli paru ). Sebagai
bagian dari penilaian dari tiga presentasi utama IHD, faktor risiko
ditangani. Ini adalah penyebab utama dari aterosklerosis(proses penyakit
yang mendasari IHD): umur, jenis kelamin laki-laki, hyperlipidaemia
(tinggi kolesterol dan lemak tinggi dalam darah),merokok , hipertensi
(tekanan darah tinggi), diabetes , dan sejarah keluarga .
Diagnosis penyakit jantung iskemik yang mendasari gejala tertentu
tergantung pada sifat dari gejala. Penyelidikan pertama
adalahelektrokardiogram (EKG / EKG), baik untuk "angina dan sindrom
koroner akut yang stabil". An X-ray dari dada dan tes darah dapat
dilakukan.(Wikipedia.com)
D. Patofisiologi
Faktor utama miokardial tergantung oksigen (MVO2) adalah denyut jantung
kontraktilitas, dan tekanan darah pada dinding intramiokardial selama
sistol. Tekanan darah pada dinding dipertimbangkan sebagai faktor yang
paling penting. Karena akibat IHD adalah terjadi peningkatan kebutuhan
oksigen yang disuplai, perubahan dalam MVO2 berperan pada terjadinya
iskemia dan gangguan yang terjadi tersebut bermaksud untuk mengurangi
perubahan tersebut.
Perhitungan MVO2 tidak langsung yang berguna secara klinik yaitu hasil
ganda (HG), dimana denyut jantung (DJ) dikalikan oleh oleh tekanan darah
sistol (TDS) (HG=DJ x TDS). HG tidak mempertimbangkan perubahan dalam
kontraksilitas (variable independen), dank arena hanya perubahan dalam
tekanan yang dipertimbangkan, volume yang masuk di ventrikel kiri dan
peningkatan MVO2 yang berhubungan dengan dilatasi ventrikular tidak
dihiraukan.
Sistem koronari normal terdiri dari banyak epikardial atau permukaan
pembuluh (R1) yang memberi tahanan kecil pada aliran miokardial dan
arteri intramiokardial dan arteriol (R2) yang bercabang ke dalam
jaringan kapiler tebal untuk mensuplai aliran darah dasar. Di bawah
kondisi normal, tahanan R2 lebih besar dari R1. Aliran darah miokardiol
behubungan secara terbalik dengan tahanan arteriol dan berhubungan
langsung dengan tekanan yang mengatur koroner.
vasodilatasi untuk mempertahankan aliran darah koroner. Dengan tingkat
yang lebih tinggi dari hambatan, tanggapan yang diberikan tidak mampu,
dan aliran koroner yang disediakan oleh vasodilatasi R2 tidak mampu
untuk mencapai kebutuhan oksigen. Stenosis yang relatif parah (lebih
dari 70%) akan memicu terjadinya iskemia dan gejalanya pada kondisi
istirahat, dimana stenosis kurang parah dapat mengikuti cadangan aliran
darah koroner untuk energi.
Diameter dan panjang dari lesi terhambat dan pengaruh tekanan yang
melewati daerah stenosis juga mempengaruhi aliran darah koroner dan
fungsi sirkulasi corrateral (tambahan). Hambatan koroner dinamik dapat
terjadi pada pembuluh normal dan pembuluh dengan stenosis yang mengalami
vasomotion (gerakan pembuluh) atau spasmus dapat memberikan beban
tambahan sangat berat pada stenosis stabil. Iskemia yang bertahan dapat
mendukung pertumbuhan aliran darah kolateral yang sedang berkembang.
Stenosis kritis terjadi ketika lesi hambatan melewati batas diameter
luminal dan melampaui 70%. Lesi membuat hambatan 50%-70% dapat
mengurangi alirah darah, tapi hambatan ini tidak tetap, dan vasospasmus
dan trombosis terbebani berat pada lesi “non kritis” akan mengarah pada
kejadian klinik seperti infark miokardial akut, jika lesi membesar dari
80% hingga 90%, tahanan dalam pembuluh akan menjadi tiga kali lipatnya.
Cadangan koroner diperkecil pada sekitar 85% hambatan disebabkan oleh
vasokontriksi. (Iso Farmakoterapi)
E. Manifestasi Klinik
Banyak kejadian iskemia tidak menyebabkan gejala angina (iskemia
silent). Pasien sering mendapat keterulangan pola sakit atau gejala lain
yang muncul setelah penggunaan energy dengan jumlah yang spesifik.
Peningkatan frekuensi, keparahan, durasi, dan gejala pada istirahat
mengesankan terjadinya pola tak stabil yang membutuhkan evaluasi medis
secepatnya
Gejala termasuk sensasi tekanan atau pembakaran di atas sternum atau di
dekatnya, yang seringnya merambat ke rahang kiri, bahu, dan tangan. Dada
mengetat dn nafas memendek dapat juga terjadi. Sensasi ini berlangsung
dari 30 detik hingga 30 menit.
Faktor yang mempercepat reaksi termasuk olahraga, lingkungan yang
dingin, berjalan setelah makan, perasaan kesal, takut, marah, dan
koitus. Pengurangan rasa sakit dengan istirahat dan dalam 45 detik
hingga 5 menit setelah konsumsi nitrogliserin.
Pasien dengan angina varian atau Prinzmetal sekunder terhadap spasmus
koroner lebih sering mengalami sakit pada kondisi istirahat dan pada
waktu pagi hari. Sakit tidak selalu disebabkan oleh pernggunaan energi
atau emosi stress, juga belum tentu dilepaskan dengan cara istirahat;
pola ECG pada waktu serangan berlangsung dengan peningkatan bagian ST
dari pada penurunannya.
Angina tidak stabil dibagai atas resiko kategori rendah, menengah atau
tinggi untuk kematian jangka pendek atau IM tidak fatal. Ciri-ciri
angina tidak stabil resiko tinggi termasuk (tapi tidak terbatas): (1)
percepatan tempo gejala iskemia sebelum 48 jam; (2) sakit pada kondisi
istirahat berlangsung lebih dari 20 menit; (3) lebih dari 75 tahun; (4)
perubahan bagi ST; dan (5) penemuan klinis edema pulmonary, pengeluaran
mitral, S3, suara dari dada, hipotensi, badikardi, atau takikardi.
Kejadian iskemia juga dapat menjadi kurang sakit, atau “diam”,
setidaknya 60% pasien, kemungkinan disebabkan oleh nilai ambang yang
tinggi dan toleransi untuk sakit lebih dari pasien yang sakit lebih
sering. (Iso Farmakoterapi)
F. Terapi
Terapi jangka pendek dari terapi IHD adalah untuk mengurangi atau
mencegaj gejala angina yang membatasi kemampuan aktivitas fisik dan
memperburuk kualitas hidup. Tujuan jangka panjang adalah untuk mencegah
PJK seperti IM, aritmia, dan gagal jantung dan untuk memperpanjang
hidup pasien.
Terapi nitrat harus menjadi tahap pertama dalam pengatasan serangan akut
angina stabil kronis jika serangan tidak sering terjadi. Jika angina
terjadi tidak lebih dari satu kali pada hari yang berdekatan, maka
sediaan sublingual nitrogliserin atau spray atau bukal cukup digunakan.
Dan secara skematis terapi bisa digambarkan sebagai berikut
(lihat dipiro)
Referensi.
Dipiro, Joseph T. et. Al, 2006, Pharmacotheraphy Handbook, Sixth edition. Mc Graw Hill Companies
Yulinah, Iskandar, Prof.Dr,Apt, dkk, 2009, Iso Farmakoterapi, PT ISFI Penerbitan; Jakarta
www. MIMS.com
www. Medicine.com
www.kimiafarma.co.id
www.wikipedia.com